BPOM DAN PAKAR DUNIA PERKUAT EKOSISTEM PENGEMBANGAN VAKSIN DAN ATMP DARI HULU KE HILIR

29-01-2026 Umum Dilihat 20 kali

Jakarta - Indonesia terus mematangkan langkah strategis dalam transformasi pengembangan produk biologi melalui penyelenggaraan Seminar Internasional dengan tema "ADVANCING VACCINES & ATMPs REGULATORY DEVELOPMENT AND R&D ECOSYSTEM PATHWAYS FROM UPSTREAM TO DOWNSTREAM". Kegiatan ini menghadirkan narasumber ahli unsur Triple Helix (Academia, Business, dan Government) untuk membahas ekosistem vaksin dan ATMP secara komprehensif.

Kegiatan ini dilaksanakan pada 28 Januari 2026 dan dihadiri oleh 503 orang secara luring, 489 orang secara daring melalui aplikasi zoom meeting, dan 1231 orang melalui youtube. Peserta berasal dari kementerian/lembaga, asosiasi profesi, pelaku usaha, perwakilan rumah sakit penyelenggara penelitian berbasis pelayanan sel punca di Indonesia, laboratorium pengolah sel punca, organisasi riset kontrak dan sentra uji bioekivalensi, akademisi, dan Unit Pelaksana Teknis di BPOM.

Rangkaian kegiatan terdiri dari:

Sambutan dari Menteri Agama, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA

Keynote speech oleh Kepala BPOM, Prof.dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. 

3 Sesi materi yaitu:
Sesi 1 Research and Development Ecosystem, paparan disampaikan oleh narasumber dari Harvard University, Prof. Joseph F. Arboleda-Velasquez, M.D., Ph.D. dan Tsinghua University, Prof. Dr. Li Guanqiao.

Sesi 2 Pharmaceutical Trade Ecosystem, penyampaian paparan oleh narasumber dari  Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Bapak Eripson Mangasi Hamonangan Sinaga, S.ST, MM. 

Sesi 3 Drug Registration Regulation System, paparan disampaikan oleh WHO Indonesia Liyana Rakinaturia, apt., MPH, Saudi FDA Dr. Saeed A. Al Awadh, PhD, PMP, dan WHO HQ dr. Hitti Sillo, dan 

Penutupan oleh Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif, dr. William Adi Teja, MD, B.Med, M.Med. 

Dalam sambutannya, Menteri Agama, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA, menyampaikan apresiasi tinggi atas dukungan strategis BPOM. Beliau secara khusus menyoroti keberhasilan negosiasi BPOM dengan Menteri Kesehatan Arab Saudi yang membuka jalan bagi Indonesia untuk mendirikan Rumah Sakit lokal di tanah suci. Sinergi antara Kementerian Agama dan BPOM akan terus ditingkatkan untuk mengoptimalkan pengawasan produk yang tidak hanya aman, tetapi juga memenuhi kriteria halalan thoyyiban bagi masyarakat,” ungkap Menteri Agama.

Kepala BPOM, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., dalam keynote speech-nya menekankan pentingnya kolaborasi Triple Helix (Akademisi, Pelaku Usaha, dan Pemerintah). BPOM optimis bahwa sektor kesehatan dapat menjadi katalisator utama dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi 8%, didukung oleh kekayaan biodiversitas dan bonus demografi Indonesia.

“Kita harus terus berinovasi untuk tetap relevan. Melalui kerja sama yang kuat antara peneliti, industri, dan regulator akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah (ABG), kita kan menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan. Pencapaian status Maturity Level 4 (ML4) dan WHO Listed Authority (WLA) untuk vaksin adalah bukti bahwa standar kita telah diakui dunia,” tegas Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D.

Prof. Joseph F. Arboleda-Velasquez dari Harvard University memaparkan potensi besar Advanced Therapy Medicinal Products (ATMP) dan menyoroti pergeseran paradigma dalam dunia medis yang berfokus pada gen protektif. Temuan menarik pada populasi di Kolombia menunjukkan bahwa varian genetik tertentu, seperti ApoE Christchurch dan Reelin-COLBOS, mampu memberikan perlindungan signifikan terhadap Alzheimer dan penurunan kognitif.

“Indonesia memiliki variasi genetik yang sangat beragam. Identifikasi gen-gen spesifik ini merupakan peluang emas untuk dikembangkan menjadi basis pengobatan inovatif di masa depan,” ujar Prof. Joseph.

Dari perspektif teknologi manufaktur, Prof. Dr. Li Guanqiao dari Tsinghua University menjelaskan bagaimana China berhasil mendominasi pasar produk biologi melalui inovasi pada Antibody-Drug Conjugates (ADC) dan terapi gen. Kesuksesan China didukung oleh reformasi regulasi (2015–2021) yang menyediakan jalur khusus seperti breakthrough therapy dan priority review. Saat ini, kolaborasi Indonesia-China melalui Joint R&D Center menjadi tonggak penting dalam transfer teknologi dan pengembangan produk inovatif di tanah air.

Sektor ekonomi syariah turut menjadi sorotan utama. Bapak Eripson Mangasi Hamonangan Sinaga, S.ST, MM. dari Kemenko Perekonomian RI menegaskan bahwa industri halal bukan lagi sekadar kewajiban administratif, melainkan strategi daya saing global. Indonesia terus memperkuat posisi dalam ekonomi syariah global melalui skema saling pengakuan (mutual recognition) sertifikat halal dengan lembaga internasional. Penahapan sertifikasi halal produk juga senantiasa digalakan dan didukung dengan regulasi di Indonesia.

Dukungan penuh WHO juga ditegaskan kembali oleh Liyana Rakinaturia  (WHO Indonesia) dan Hitti Sillo (WHO), yang mengapresiasi keberhasilan BPOM masuk dalam jajaran otoritas regulator dunia dengan status WHO Listed Authorities (WLA). Status WLA ini menegaskan bahwa BPOM memiliki maturitas sistem regulasi yang diakui secara global dalam menjamin khasiat, keamanan, dan mutu Obat.

Dr. Saeed dari Saudi FDA menyampaikan pengalaman Arab Saudi yang telah mencapai Maturitas Level 4 untuk vaksin. SFDA secara aktif mendukung orphan designation dan produk yang belum didukung negara lain. Saat ini, SFDA telah berhasil memfasilitasi produksi lokal untuk produk kompleks seperti CAR-T Cells, insulin, dan enoxaparin dengan standar global.

Pada kegiatan ini juga dilakukan sesi diskusi panel setiap sesi bersama seluruh peserta. Selama kegiatan berlangsung, terlihat antusias yang tinggi terhadap adanya seminar internasional ini.

Kegiatan ini resmi ditutup oleh Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif, dr. William Adi Teja, MD, B.Med, M.Med. Beliau menegaskan bahwa dalam perjalanan 25 tahun BPOM, ATMP merupakan masa depan inovasi kesehatan nasional.

Status WLA vaksin menempatkan posisi Indonesia setara di tingkat global. Namun, penguatan di hulu penelitian harus dibarengi dengan ekosistem hilir yang mumpuni, mulai dari produksi, distribusi, hingga membangun kepercayaan masyarakat. Integrasi aspek halal juga menjadi nilai tambah dalam meningkatkan kualitas obat di Indonesia. Tujuan akhir adalah memastikan inovasi sampai ke masyarakat secara cepat, aman, berkhasiat, dan bermutu.

Seminar Internasional ini menggarisbawahi bahwa penguatan ekosistem R&D dari hulu ke hilir memerlukan sinergi antara regulasi yang adaptif, inovasi teknologi, dan pemanfaatan kekayaan genetik lokal di Indonesia. BPOM berada pada posisi strategis untuk memimpin penguatan ekosistem ini, memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain kunci dalam rantai pasok vaksin dan terapi canggih dunia.

Sarana